Jumat, 30 Januari 2015

Makalah Sinusitis


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar belakang
Dalam pengertian sehari-hari, bernafas sekedar diartikan sebagai proses pertukaran gas di paru-paru. Tetapi secara biologis, pengertian respirasi tidaklah demikian. Pernafasan lebih menunjuk kepada proses pembongkaran atau pembakaran zat sumber energi di dalam sel-sel tubuh untuk memperoleh energi atau tenaga. Zat makanan sumber tenaga yang paling utama adalah karbohidrat.
Istilah pernapasan (respirasi ) berarti pertukaran gas antara sel tubuh dan lingkungan. Sel tubuh memerlukan energi untuk semua aktivitas metaboliknya. Sebagian besar energi ini didapat dari reaksi yang hanya dapat terjadi jika ada oksigen. Produk sisa reaksi ini adalah karbon dioksida. Sistem pernapasan memungkinkan oksigen yang ada di atmosfer masuk ke dalam tubuh dan memungkinkan ekskresi karbondioksida dari tubuh. Pertukaran gas antara darah dan paru disebut respirasi eksternal. Sedangkan pertukaran gas antara darah dan sel disebut respirasi internal. Masuk keluarnya udara dalam paru-paru dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara dalam rongga dada dengan tekanan udara di luar tubuh. Jika tekanan di luar rongga dada lebih besar maka udara akan masuk. Sebaliknya, apabila tekanan dalam rongga dada lebih besar maka udara akan keluar.
Sistem pernafasan tersusun atas saluran pernafasan dan paru-paru sebagai tempat perrtukaraan udara pernafasan. Pernafasan merupakan proses untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk mengubah sumber energi menjadi energi dan membuang CO2 sebagai sisa metabolisme.
Sistem pernafasan terdiri daripada lubang hidung, rongga hidung, faring, laring,  trakea , peparu , tulang rusuk , otot interkosta , bronkus , bronkiol , alveolus dan diafragma . Lubang hidung sampai bronchiolus disebut pars konduktoria karena fungsinya sebagai saluran udara respirasi.
Contoh penyakit yang menyerang sistem respirasi yaitu : asma, influenza, batuk, sinusitis, rinitis, bronkitis, Pleuritis, laringitis, faringitis dll.
Sebagian besar infeksi virus penyebab pilek seperti common cold dapat menyebabkan suatu sumbatan pada hidung, yang akan hilang dalam beberapa hari. Namun jika terjadi peradangan pada sinusnya dapat muncul gejala lainnya seperti    Infeksi sinus seperti yang kita ketahui kini lebih jarang dibandingkan era pra-antibiotik.. Sinus atau sering pula disebut dengan sinus paranasalis adalah rongga udara yang terdapat pada bagian padat dari tulang tenggkorak di sekitar wajah, yang berfungsi untuk memperingan tulang tenggkorak. Rongga ini berjumlah empat pasang kiri dan kanan. Rasa sakit di bagian dahi, pipi, hidung atau daerang diantara mata terkadang dibarengi dengan demam, sakit kepala, sakit gigi atau bahan kepekaan indra penciuman kita merupaan salah satu gejala sinusitis. Terkadang karena gejala yang kita rasakan tidak spesifik, kita salah mengartikan gejala-gejala tersebut dengan penyakit lain sehingga membuat penyakit sinusitis yang diderita berkembang tanpa diobati.

B.    Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.  Apa pengertian sinusitis?
2.  Apa saja Penyebab sinusitis?
3.  Bagaimana gejala – gejala dan tanda seseorang terkena sinus?
4.  Bagaimana patofisiologi dari sinusitis?
5.  Bagaimana farmakoterapi sinusitis?


  

BAB II
PEMBAHASAN

A.     Definisi sinusitis
Sinusitis  akhiran umum dalam kedokteran itis berarti peradangan karena itu sinusitis adalah suatu peradangan sinus paranasal. Sinusitis adalah penyakit yang terjadi di daerah sinus. Sinusitis adalah merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman atau virus.  Sinus itu sendiri adalah rogga udara yang terdapat di area wajah yang terhubung dengan hidung.
Sinusitis adalah peradangan pada mukosa sinus paranasalis. Sinusitis diberi nama sesuai dengan sinus yang terkena. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis. Bila mengenai semua sinus paranasalis disebut pansunusitis.
Sinusitis adalah suatu peradangan pada sinus yang terjadi karena alergi atau infeksi virus, bakteri maupun jamur.
Sinusitis bisa terjadi pada salah satu dari keempat sinus yang ada (maksilaris, etmoidalis, frontalis atau sfenoidalis). Fungsi dari rongga sinus sendiri adalah untuk menjaga kelembapan hidung dan menjaga pertukaran udara di daerah hidung.
Nama dagang: Amoksisilin memiliki beberapa nama dagang, antara lain: Amoxsan® (kapsul 250 mg dan 500 mg, sirup kering 125 mg/5 ml dan 250 mg/5 ml, tetes pediatrik 100 mg/ml, serbuk injeksi 1 g/vial).
Sinusitis bisa terjadi pada salah satu dari keempat sinus yang ada (maksilaris, etmoidalis, frontalis atau sfenoidalis).

Sinusitis merupakan penyakit peradangan pada bagian atas rongga hidung atau sinus paranasalis. Penyakit sinusitis disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, virus, menurunnya kekebalan tubuh, flu, stress, kecanduan rokok, dan infeksi pada gigi.
Rongga sinus sendiri terdiri dari 4 jenis yaitu :
1.  Sinus Frontal, terletak di atas meja dibagian tengah dari masing masing alis.
2.  Sinus Maxillary, terletak diantara tulang pipi, tepat di sampig hidung.
3.  Sinus Ethmooid, terletak di antara mata, tepat dibelakang tulang hidung.
4.  Sinus Sphenoid, terletak dibelakang sinus ethmoid dan di belakang mata
Didalam rongga sinus terdapat lapisan yang terdiri dari bulu-bulu halus yang disebut dengan cilia. Fungsi cilia ini adalah untuk mendorong lender yang diproduksi didalam sinus menuju kesaluran parnafasan. Gerakan cilia mendorong lender ini berguna untuk membersihkan saluran nafas dari kotoran ataupun organism yang mungkin ada. Ketika lapisan rongga sinus yang menyebabkan lender terperangkap di rongga sinus dan menjadi tempat tumbuhnya bakteri. Jadi sinusitis terjadi apabila terjadi peradangan didaerah lapisan rongga sinus yang menyebabkan lender terperangkap dirongga sinus dan menadi tempat tumbuhya bekteri.


B.    Penyebab sinus
Sinusitis dapat disebabkan oleh
           1.   Bakteri
Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenza, Streptococcus group A, Staphylococcus aureus, Neisseria, Klebsiella, Basil gram -, Pseudomonas.
           2.    Virus
Rhinovirus, influenza virus, parainfluenza virus
           3.    Bakteri anaerob : fusobakteria
           4.     Jamur.
               Sinusitas sendiri dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :
a.  Sinusitas Akut : gejala dirasakan selama 2-8 minggu.
b.  Sinusitas Kronis : biasanya gejala dirasakan lebih dari 8 minggu.
Penyebab sinusitis akut:
a)  Infeksi virus
Sinusitis akut bisa terjadi setelah suatu infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas (misalnya pilek).
b)  Bakteri
Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus, sehingga terjadi infeksi sinus akut.
c)  Infeksi jamur
Kadang infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut.
Aspergillus merupakan jamur yang bisa menyebabkan sinusitis pada penderita gangguan sistem kekebalan. Pada orang-orang tertentu, sinusitis jamur merupakan sejenis reaksi alergi terhadap jamur. Peradangan menahun pada saluran hidung. Pada penderita rinitis alergika bisa terjadi sinusitis akut. Demikian pula halnya pada penderita rinitis vasomotor. Penyakit tertentu.Sinusitis akut lebih sering terjadi pada penderita gangguan sistem kekebalan dan penderita kelainan sekresi lendir (misalnya fibrosis kistik).
Penyebab sinusitis kronis:
a.  Asma
Penyakit alergi (misalnya rinitis alergika). Gangguan sistem kekebalan atau kelainan sekresi maupun pembuangan lendir.

C.    Tanda dan Gejala Penyakit sinus
Gejala khas dari kelainan pada sinus adalah sakit kepala yang dirasakan ketika penderita bangun pada pagi hari. Sinusitis akut dan kronis memiliki gejala yang sama, yaitu nyeri tekan dan pembengkakan pada sinus yang terkena, tetapi ada gejala tertentu yang timbul berdasarkan sinus yang terkena:
Ø   Sinusitis maksilaris menyebabkan nyeri pipi tepat di bawah mata, sakit gigi dan sakit kepala.
Ø  Sinusitis frontalis menyebabkan sakit kepala di dahi.
Ø  Sinusitis etmoidalis menyebabkan nyeri di belakang dan diantara mata serta sakit kepala di dahi. Peradangan sinus etmoidalis juga bisa menyebabkan nyeri bila pinggiran hidung di tekan, berkurangnya indera penciuman dan hidung tersumbat.
Ø  Sinusitis sfenoidalis menyebabkan nyeri yang lokasinya tidak dapat dipastikan dan bisa dirasakan di puncak kepala bagian depan ataupun belakang, atau kadang menyebabkan sakit telinga dan sakit leher.
Gejala lainnya adalah:
·           tidak enak badan
·           demam
·           letih, lesu
·            batuk, yang mungkin semakin memburuk pada malam hari
·             hidung meler atau hidung tersumbat.
Demam dan menggigil menunjukkan bahwa infeksi telah menyebar ke luar sinus. Selaput lendir hidung tampak merah dan membengkak, dari hidung mungkin keluar nanah berwarna kuning atau hijau. Sinusitis & Gangguan Sistem Kekebalan Pada penderita diabetes yang tidak terkontrol atau penderita gangguan sistem kekebalan, jamur bisa menyebabkan sinusitis yang berat dan bahkan berakibat fatal. Mukormikosis (fikomikosis) adalah suatu infeksi jamur yang bisa terjadi pada penderita diabetes yang tidak terkontrol. Pada rongga hidung terdapat jaringan mati yang berwarna hitam dan menyumbat aliran darah ke otak sehingga terjadi gejala-gejala neurologis (misalnya sakit kepala dan kebutaan). Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopik terhadap jaringan yang mati tersebut.
Selain beberapa gejala sinusitis di atas, secara umum gejala sinusitis lainnya yang timbul adalah penderita merasa nyeri dan tertekan pada daerah wajah. Nyeri tumpul berdenyut merupakan tanda utama penyakit sinusitis, hal ini terjadi akibat tekanan yang ditimbulkan oleh jaringan yang meradang pada ujung-ujung saraf dinding dalam sinus.  Selain itu gejala sinusitis lainnya penderita biasanya mengalami hidung tersumbat. Penyumbatan hidung ini dapat mengenai satu atau juga kedua sisi hidung.  Gejala sinusitis lainnya berkurangnya daya penciuman penderita. Hal ini disebabkan oleh membengkaknya selaput pada hidung sehingga dapat menghambat molekul bau yang anda hirup mencapai reseptor penciuman sehingga daya penciuman anda menjadi berkurang.
Gejala sinusitis lainnya berkurangnya daya pengecap. Indra pengecapan yang normal bergantung pada keutuhan sensasi penciuman. Sehingga terganggunya indra penciuman akan menyebabkan berkurangnya fungsi indra pengecap. Selain itu penderita sinusitis bisanya napasnya berbau hal ini disebabkan oleh Lendir kehijauan yang terinfeksi mengandung bakteri dan bahan buangan yang mengeluarkan bau busuk. Gejala sinusitis lainnya mengalami Batuk. Hal ini disebabkan oleh ketika lendir mengalir ke bagian belakang  tenggorokan,  mungkin akan menentuh pita suara dan memicu respon batuk. Bagi penderita sinusitis dan agar penyakit sinusitis ini tidak makan parah, anda dapat menghindarinya yaitu dengan cara meningkatkan daya tahan tubuh atau imun tubuh, selain itu hindari juga alergen seperti debu, asap rokok, polusi udara, makanan, minuman, dan obat yang dapat menimbulkan alergi.

D.    Patofisiologi sinusitis
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran klirens dari mukosiliar didalam komplek osteo meatal (KOM). Disamping itu mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan.
Bila terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami oedem, sehingga mukosa yang berhadapan akan saling bertemu. Hal ini menyebabkan silia tidak dapat bergerak dan juga menyebabkan tersumbatnya ostium. Hal ini menimbulkan tekanan negatif didalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi atau penghambatan drainase sinus. Efek awal yang ditimbulkan adalah keluarnya cairan serous yang dianggap sebagai sinusitis non bakterial yang dapat sembuh tanpa pengobatan. Bila tidak sembuh maka sekret yang tertumpuk dalam sinus ini akan menjadi media yang poten untuk tumbuh dan multiplikasi bakteri, dan sekret akan berubah menjadi purulen yang disebut sinusitis akut bakterialis yang membutuhkan terapi antibiotik. Jika terapi inadekuat maka keadaan ini bisa berlanjut, akan terjadi hipoksia dan bakteri anaerob akan semakin berkembang. Keadaan ini menyebabkan perubahan kronik dari mukosa yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista.

E.     Faramakoterapi sinusitis
Pengobatan sinusitis tergantung dari penyebabnya. Sinusitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri tentu saja memerlukan terapi antibiotika. Bila dokter sudah memberikan terapi antibiotika, habiskan sesuai anjuran. Jangan sekali-kali menghentikan sendiri penggunaan antibiotika walaupun merasa sudah sehat. Minumlah sesuai dosis yang ditentukan oleh dokter.
       I.    Terapi non farmakologis
Untuk menghilangkan gejala sinusitis lakukan terapi uap panas. Caranya: didihkan 4-6 gelas air, tempatkan dalam mangkuk yang cukup besar, lalu tundukkan kepala (sambil diselubungi handuk) di atas mangkuk tersebut sehingga uap panas dapat di hirup secara maksimal. Terapi ini biasanya dilakukan selama 10-15 menit. Minum banyak cairan, seperti air, jus buah dan teh untuk mengencerkan lendir dalam rongga hidung. Banyak istirahat, terutama di tempat yang cukup lembab. Sedapat mungkin hindari pemicu alergi.
   II.       Terapi farmakologis
·      Antibiotika
Antibiotika merupakan zat yang dihasilkan oleh mikroba, terutama fungi, yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain. Antibiotika juga dapat dibuat secara sintesis. Penggunaan antibiotika didasarkan pada dua pertimbangan utama yaitu:
o  Penyebab infeksi
Pemberian antibiotika yang paling ideal adalah berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologi dan uji kepekaan kuman
o   Faktor pasien
Diantara faktor pasien yang perlu diperhatikan dalam pemberian antibiotika antara lain fungsi ginjal, fungsi hati, riwayat alergi, daya tahan terhadap infeksi, daya tahan terhadap obat, beratnya infeksi, usia, untuk wanita apakah sedang hamil atau menyusui dan lain-lain
OBAT PILIHAN
Namagenerik:Amoksisilin.
·      Terapi pendukung dengan pemberian analgesik dan dekongestan
·      Penggunaan antihistamin dibenarkan pada sinusitis yang disebabkan oleh alergi
·      Waspadai penggunaan antihistamin, karena antihistamin dapat mengentalkan sekret
·      Pemakaian dekongestan topikal dapat membantu pengeluaran sekret
·      Hindari penggunaan antitusif.
F.     Cara Mencegah Sinusitis
Yang paling mudah, jangan sampai terkena infeksi saluran nafas. Rajin-rajin cuci tangan karena tindakan sederhana ini terbukti efektif dalam mengurangi risiko tertular penyakit saluran pernafasan. Selain itu, sedapat mungkin menghindari kontak erat dengan mereka yang sedang terkena batuk pilek.
Bila anda memakai AC, sering-seringlah membersihkan penyaringnya agar debu, jamur dan berbagai substansi yang mungkin dapat mencetuskan alergi dapat dikurangi (walau tak mungkin dihilangkan seluruhnya). Demikian juga dengan karpet dan sofa.
Tingkatkan daya tahan tubuh dengan cukup istirahat dan konsumsi makanan dan minuman yang memiliki nilai nutrisi baik. Selain itu, jangan lupa untuk minum air dalam jumlah yang cukup. Kegiatan minum ini seringkali dilupakan orang padahal air yang sehat merupakan salah satu sumber utama kesehatan tubuh kita.
Berolahraga yang teratur, khususnya setelah waktu subuh di mana udara pagi saat itu masih jernih dan bersih. Perbanyak menghirup udara bersih, dengan cara menghirup dan mengeluarkannya perlahan-lahan. Hal ini sangat bermanfaat selain untuk menguatkan paru-paru juga untuk mengisi daerah sinus dengan oksigen. Sehingga daerah-daerah sinus menjadi lebih bersih dan kebal terhadap berbagai infeksi dan bakteri.
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah segera kunjungi dokter bila terdapat gejala-gejala yang mungkin merupakan gejala sinusitis. Diagnosa dan pengobatan secara dini dan tepat akan mempercepat kesembuhan penyakit yang diderita

  


BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari pembuatan makalah ini yaitu :
1.  Sinusitis adalah suatu peradangan pada sinus yang terjadi karena alergi atau infeksi virus, bakteri maupun jamur.
2.  Sinusitis dapat disebabkan oleh Bakteri, virus, Bakteri anaerob, jamur.

Makalah Tuberculosis (TBC)

KATA PENGANTAR
Segala  puji  hanya  milik  Allah SWT.  Shalawat  dan  salam  selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW.  Berkat  limpahan  dan rahmat-Nya penyusun  mampu  menyelesaikan  tugas  makalah ini guna memenuhi tugas  “Patofisiologi dan Farmakoterapi Respirasi”.
Adapun makalah berjudul “Tuberculosis (TBC)”. Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain berkat bantuan dari berbagai pihak, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, penulis membutuhkan kritik dan saran dari para pembaca   demi  perbaikan  pembuatan  makalah  di  masa  yang  akan  datang.
Akhir kata penulis mengucapkan banyak terimakasih. Dan apabila ada kesalahan dan kata kata yang kurang berkenan, saya selaku penulis mohon maaf yang sebesar besarnya.


Makassar, 26 Januari 2015

Penulis


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Respirasi adalah proses oksidasi bahan makanan atau bahan organik yang terjadi didalam sel yang dapat dilakukan secara aerob maupun anaerob.
Semua makhluk yang hidup atau organisme pasti melakukan melakukan pernapasan atau proses respirasi. Bernapas merupakan salah stu ciri-ciri makhluk hidup. Tanpa bernapas, makhluk hidup atau organisme tidak dapat bertahan hidup. Dalam melakukan proses respirasi ini dibutuhkan yang namanya O(oksigen). Karena proses respirasi (pernafasan) merupakan proses pengikatan oksigen dan melepaskan CO(karbon dioksida). Adapun, Oyang dihirup berasal didapatkan diudara bebas dari hasil fotosintesis tumbuhan hijau yang mengurai COyang dikeluarkan dari pernafasan makhluk hidup dengan bantuan cahaya matahari. Namun, saat ini seperti yang kita ketahui bahwa O2 di udara mulai berkurang dan tercemar seiring berjalannya waktu sebagai akibat dari polusi udara dari asap pabrik, asap kendaraan dan sebagainya sehingga sering terjadi gangguan pernapasan.
Proses terjadinya kegiatan respirasi pada manusia dan hewan terjadi pada siang hari dan malam hari baik itu pada saat mereka sedang istirahat. Sedangkan pada tumbuhan, melakukan respirasi pada malam hari dan melakukan fotosintesis pada siang hari karena pada saat siang hari itulah tumbuhan bisa mendapatkan energiu dari matahari tetapi pada malam pun dapat terjadi fotosintesis apabila mendapatkan atau memperoleh cahaya yang cukup banyak yang dapat mengurai COyang terdapat di udara.
Seperti yang kita ketahui bahwa ada beberapa factor yang mempengaruhi proses respirasi itu seperti jenis, suhu, aktivitas, berat tubuh dan lainnya, sehingga banyak juga penyakit-penyakit respirasi salah satunya seperti Tuberculosis (TBC).



BAB II
PEMBAHASAN
A.   Definisi Tuberculosis (TBC)
Tuberculosis (TBC) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini dapat menyerang seluruh organ tubuh manusia, namun yang paling sering diserang adalah paru-paru (maka secara umum sering disebut sebagai penyakit paru-paru atau TB Paru-paru. Bakteri ini menyerang paru-paru sehingga pada bagian dalam alveolus terdapat bintil-bintil. Penyakit ini menyebabkan proses difusi oksigen yang terganggu karena adanya bintik-bintik kecil pada dinding alveolus. Jika bagian paru-paru yang diserang meluas, sel-selnya mati dan paru-paru mengecil. Akibatnya napas penderita terengah-engah.
B.   Penyebab Tuberculosis (TBC)
Penyakit ini diakibatkan infeksi kuman mikobakterium tuberkulosis yang dapat menyerang paru, ataupun organ-organ tubuh lainnya seperti kelenjar getah bening, usus, ginjal, kandungan, tulang, sampai otak. TBC dapat mengakibatkan kematian dan merupakan salah satu penyakit infeksi yang menyebabkan kematian.
Tuberculosis (TBC) sangat mudah menular, yaitu lewat cairan di saluran napas yang keluar ke udara lewat batuk/bersin & dihirup oleh orang-orang di sekitarnya. Tidak semua orang yang menghirup udara yang mengandung kuman TBC akan sakit.
Pada orang-orang yang memiliki tubuh yang sehat karena daya tahan tubuh yang tinggi dan gizi yang baik, penyakit ini tidak akan muncul dan kuman TBC akan "tertidur". Namun,pada mereka yang mengalami kekurangan gizi, daya tahan tubuh menurun/ buruk, atau terus-menerus menghirup udara yang mengandung kuman TBC akibat lingkungan yang buruk, akan lebih mudah terinfeksi TBC (menjadi 'TBC aktif') atau dapat juga mengakibatkan kuman TBC yang "tertidur" di dalam tubuh dapat aktif kembali (reaktivasi).
Infeksi TBC yang paling sering, yaitu pada paru, sering kali muncul tanpa gejala apa pun yang khas, misalnya hanya batuk-batuk ringan sehingga sering diabaikan dan tidak diobati. Padahal, penderita TBC paru dapat dengan mudah menularkan kuman TBC ke orang lain dan kuman TBC terus merusak jaringan paru sampai menimbulkan gejala-gejala yang khas saat penyakitnya telah cukup parah.
C.   Gejala Tuberculosis (TBC)
1.    Gejala utama
Batuk terus-menerus dan berdahak selama tiga pekan atau lebih.
2.    Gejala tambahan yang sering dijumpai
·         Dahak bercampur darah/batuk darah
·         Sesak nafas dan rasa nyeri pada dada
·         Demam/meriang lebih dari sebulan
·         Berkeringat pada malam hari tanpa penyebab yang jelas
·         Badan lemah dan lesu
·         Nafsu makan menurun dan terjadi penurunan berat badan
D.   Diagnosa Tuberculosis (TBC)
Untuk mendiagnosis TBC, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama di daerah paru/dada, lalu dapat meminta pemeriksaan tambahan berupa foto rontgen dada, tes laboratorium untuk dahak dan darah, juga tes tuberkulin (mantoux/PPD).
E.   Petofisiologi Tuberculosis (TBC)
Infeksi primer diinisiasi oleh implantasi oleh organism di alveolar melalui droplet nuclei yang sangat kecil (1-5mm) untuk menghindari sel ephitelia siliari dari saluran atas pernafasan. Bila terinplantasi M. tuberculosis melalui saluran nafas, mikroorganisme kn membelah diri dan dicerna oleh mkrofagpulmoner, dimana pembelahan diri akan terus berlangsung, walaupun lebih pelan. nerkosis jaringan dan klasifikasi jaringan pada daerah yang terinfeksi dan nodus limfe regional dapat terjadi, menghasilkan pembentukan radiodense area menjadi kompleks gohn.
Makrofag yang beraktivitas dalam jumlah besar akan mengelilingi daerah yang ditumbuhi oleh M. Tuberkulosis yang padat seperti keju (daerah nerkotik) sebagai bagiandari imunitas yang dimediasi oleh sel. Hipersensitivitas  tipe terunda juga berkembang melalui aktivitas dan perbanyakan limfoid T. Keberhasilan dalam menghambat M. Tuberkulosis membutuhkan aktivitas dari limfosit CD4 subset, yang dikenal sebagai sel TH-1, yang mengaktivasi makrofag melalui sekresi internefron γ
Sekitar 90% pasien yang pernah memiliki penyakit primer tidak memiliki manifestasi klinis lain selain uji kulit yang positif dengan atau tanpa kombinasi dengan adanya granuloma stabil yang diperoleh dari hasil radiografi.
Sekitar 5% pasien ( biasanya anak-anak, arangtua atau penurunan sistem imun) mengalami penyakit primer yang berkembang pada darah dan infeksi primer ( biasanya lobus paling bawah) dan lebih sering dengan diseminasi, menyebabkan terjadinya infeksi meningitis dan biasanya juga melibatkan lobus paru-paru paling atas.
Sekitar 10% dari pasien mengalami reaktivitas, terjadi penyebaran organisme melalui darah. Biasanya penyebaran orgaisme mealui darah menyebabkan pertumbuhan cepat, penyebaran penyakit secara luas dan membentuk granuloma yang dikenal sebagai tuberculosis malari
F.    Farmakoterapi Tuberculosis (TBC)
Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) merupakan hal penting pada terapi tuberkulosis, paling sedikit dua obat, umumnya tiga atau lebih obat dimana mikroorganisme penginfeksi tersebut sensitif harus diberikan secara terus menerus  paling tidak selama enam bulan dan ditingkatkan 2 -3 tahun untuk beberapa kasus  resisten multi obat.  Terapi Non Farmakologi yaitu Operasi pada jaringan yang telah mengalami kerusakan jaringan akibat TBC.
G.   Pencegahan Tuberculosis (TBC)
Penyakit TBC dapat dicegah dengan cara:
             a.    Mengurangi kontak dengan penderita penyakit TBC aktif.

  1. Menjaga standar hidup yang baik, dengan makanan bergizi, lingkungan yang sehat, dan berolahraga.
  1. Pemberian vaksin BCG (untuk mencegah kasus TBC yang lebih berat). Vaksin ini secara rutin diberikan pada semua balita.

Perlu diingat bahwa mereka yang sudah pernah terkena TBC dan diobati, dapat kembali terkena penyakit yang sama jika tidak mencegahnya dan menjaga kesehatan tubuhnya.
H.   Obat-obat Tuberculosis (TBC)
Obat anti tuberkulosis adalah antibiotik dan anti infeksi sintetik yang digunakan untuk pengobatan tuberkulosis dan penyakit lain yang disebabkan oleh organisme genus Mycobacterium. Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid, Ethambutol, dan Streptomisin adalah obat yang paling sering digunakan untuk pengobatan tuberkulosis dan disebut sebagai obat  anti tuberkulosis lini pertama. Rifapentin, Rifabutin, seperti juga Rifampisin, adalah derivat Rifamisin : obat tersebut digunakan sebagai alternatif dari Rifampisin.
Obat antituberkulosis lainnya adalah Asam aminosalisilik, Kapreomisin,  Etionamid, Sikloserin, dan Kanamisin. Umumnya obat tersebut lebih toksik dan kurang efektif daripada obat lini pertama dan hanya digunakan apabila obat lini pertama dikontraindikasikan atau telah resisten. Streptomisin, Kanamisin, dan Kapreomisin mempunyai efek toksik yang mirip, oleh karena itu tidak boleh ada lebih dari satu obat tersebut dalam rejimen antituberkulosis.
Isoniazid 300 mg per oral sehari  adalah bakterisidal untuk Mycobacterium tuberkulosis, M. kansasii, dan M. bovis.Isoniazid diabsorpsi sangat baik secara oral dan didistribusikan ke seluruh tubuh, termasuk ke dalam cairan otak (CSF). Efek sampingnya yaitu Hepatotoksik.
Peningkatan serum transaminase terjadi pada lebih dari 20% pasien setelah beberapa bulan pertama pemberian Isoniazid, tetapi biasanya membaik meski pengobatan dilanjutkan. 
Rifampisin 10 mg/kg/hari maksimum 600 mg peroral sekali sehari,  merupakan bakterisidal untuk gram-positif cocci, beberapa gram negatif bacilli dan hampir semua species Mycobacterium. Absorpsi dan distribusi, termasuk penetrasi kedalam SSP, sangat baik. Pasien perlu diberitahu terjadinya pewarnaan oranye kemerahan pada sekresi air mata, urin dan keringat karena penggunaan rifampisin,  tetapi ini tidak membahayakan. Toksisitas  seperti kulit kemerahan, efek samping terhadap SSP, gangguan pencernaan, dan hepatitis dapat diperberat dengan adanya penyakit hati.
Rifampisin dimetabolisme oleh hati , menginduksi enzim miksosomal hati dan mempengaruhi metabolism banyak obat lainnya. Interaksi Rifampisin dengan banyak obat lain ini perlu diwaspadaai karena dapat membahayakan pasien.
Rifampisin berinteraksi dengan obat antiretroviral golongan protease Inhibitor : saquinavir, idinavir, ritonavir dan nelfinavir ; serta golongan  nonnucleosid reverse transcriptase Inhibitors = NNRTIs : nevirapine, delavirdine, dan efavirenz, interaksi tersebut  dapat  mempengaruhi konsentrasi  obat dalam plasma. Oleh karena interaksi tersebut dapat membahayakan pasien maka  penggunaan bersama harus dihindari. 
Adanya makanan dapat menurunkan absorpsi Rifampisin, konsentrasi Rifampisin dapat turun jika digunakan bersama makanan. Oleh karena itu Rifampisin dianjurkan untuk diminum saat lambung kosong yaitu satu jam sebelum makan atau dua jam sesudah makan, untuk meningkatkan absorpsi total obat.
Pirazinamid 15-30 mg/kg/hari per oral ; maksimum 2 g/hari merupakan bakterisidal untuk micobakteri intraselular. Pirazinamid diabsorpsi dengan baik dari saluran pencernaan dan didistribusikan ke jaringan dan cairan tubuh termasuk CSF. Obat diekskresikan melalui ginjal. Efek samping utama adalah hepatotoksik.
Ethambutol dosis lazim 15 mg/kg sehari, dosis awal 25 mg/kg/hari dapat digunakan pada infeksi yang lebih berat. Obat diekskresikan terutama melalui ginjal, dan dosis sebaiknya dikurangi pada pasien dengan kerusakan ginjal. Toksisitas yang signifikan adalah optic neuritis, yang dapat terjadi pada kurang dari 1% pasien yang menggunakan ethambutol 15 mg/kg/hari  dan lebih banyak lagi terjadi pada dosis  yang lebih tinggi. Penurunan ketajaman penglihatan, persepsi warna hijau, atau gangguan visual  dapat terjadi kemudian. Pemeriksaan mata secara rutin sebaiknya dilakukan, komplikasi ophtahalmologic  tersebut dapat hilang seiring dengan penghentian obat.
Streptomisin Dosis 15 mg/kg/hari IM, maksimum 1 g merupakan aminoglikosida tuberkulosidal. Dosis 25-30 mg/kg IM dua kali seminggu atau tiga kali seminggu, maksimum 1,5 g juga dapat diberikan dengan pengawasan (DOTS). Dosis perlu disesuaikan pada pasien dengan kerusakan fungsi ginjal. Risiko Ototoksisitas menyebabkan pasien perlu mendapatkan pemeriksaan  pada pendengarannya. 
Evaluasi dan monitoring perlu dilakukan untuk mengetahui respon pasien terhadap pengobatan. Keberhasilan terapi ataupun kegagalan terapi dapat diketahui dengan mengevaluai hasil terapi yang diinginkan dan monitoring efek toksik yang perlu diwaspadai.



 BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Tuberkulosis (TBc) masih merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia, oleh karena morbiditas dan mortalitasnya masih tinggi, terutama pada negara yang sedang berkembang. WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa TBC saat ini telah menjadi ancaman global. Diperkirakan terdapat 8 juta kasus baru dan 3 juta kematian karena TBC setiap tahunnya. Menurut WHO tahun 1989, di negara berkembang terdapat 1,3 juta kasus dan 450.000 kematian karena TBC pada anak di bawah 15 tahun. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1986, TBC adalah penyebab kematian nomor 4 sedangkan menurut SKRT tahun 1992, TBC sebagai penyebab kematian nomor 2 sesudah penyakit kardiovaskuler dan nomor 1 dari golongan penyakit infeksi. Sedangkan pada saat ini, laporan internasional menunjukan bahwa Indonesia adalah ‘penyumbang’ kasus penderita TBC terbesar ketiga didunia, setelah Cina dan India. Penularan tuberkulosis melalui udara dengan inhalasi droplet nucleus yang mengandung basil tuberkulosis yang infeksius. Oleh karena itu penting untuk memeriksakan orang-orang yang kontak erat dengan penderita TBC.


B.   Saran
Semoga kita semua dapat lebih memahami dan mengetahui tentang penyakit Tuberculosis (TBC) serta dapat meningkatkan kesadaran, kemauan dan peran serta dalam penanggulangan Tuberculosis (TBC).