Kamis, 29 Januari 2015

Makalah Pneumonia

KATA PENGANTAR
Segala  puji  hanya  milik  Allah SWT.  Shalawat  dan  salam  selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW.  Berkat  limpahan  dan rahmat-Nya penyusun  mampu  menyelesaikan  tugas  makalah ini guna memenuhi tugas  “Patofisiologi dan Farmakoterapi Respirasi”.
Adapun makalah ini berjudul “Pneumonia”. Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain berkat bantuan dari berbagai pihak, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, penulis membutuhkan kritik dan saran dari para pembaca   demi  perbaikan  pembuatan  makalah  di  masa  yang  akan  datang.
Akhir kata penulis mengucapkan banyak terimakasih. Dan apabila ada kesalahan dan kata kata yang kurang berkenan, saya selaku penulis mohon maaf yang sebesar besarnya.


Makassar, 26 Januari 2015

Penulis





BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Respirasi adalah proses oksidasi bahan makanan atau bahan organik yang terjadi didalam sel yang dapat dilakukan secara aerob maupun anaerob.
Semua makhluk yang hidup atau organisme pasti melakukan melakukan pernapasan atau proses respirasi. Bernapas merupakan salah stu ciri-ciri makhluk hidup. Tanpa bernapas, makhluk hidup atau organisme tidak dapat bertahan hidup. Dalam melakukan proses respirasi ini dibutuhkan yang namanya O(oksigen). Karena proses respirasi (pernafasan) merupakan proses pengikatan oksigen dan melepaskan CO(karbon dioksida). Adapun, Oyang dihirup berasal didapatkan diudara bebas dari hasil fotosintesis tumbuhan hijau yang mengurai COyang dikeluarkan dari pernafasan makhluk hidup dengan bantuan cahaya matahari. Namun, saat ini seperti yang kita ketahui bahwa O2 di udara mulai berkurang dan tercemar seiring berjalannya waktu sebagai akibat dari polusi udara dari asap pabrik, asap kendaraan dan sebagainya sehingga sering terjadi gangguan pernapasan.
Proses terjadinya kegiatan respirasi pada manusia dan hewan terjadi pada siang hari dan malam hari baik itu pada saat mereka sedang istirahat. Sedangkan pada tumbuhan, melakukan respirasi pada malam hari dan melakukan fotosintesis pada siang hari karena pada saat siang hari itulah tumbuhan bisa mendapatkan energiu dari matahari tetapi pada malam pun dapat terjadi fotosintesis apabila mendapatkan atau memperoleh cahaya yang cukup banyak yang dapat mengurai COyang terdapat di udara.
Seperti yang kita ketahui bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses respirasi itu seperti jenis, suhu, aktivitas, berat tubuh dan lainnya, sehingga banyak juga penyakit-penyakit respirasi salah satunya seperti Pneumonia.







BAB II
PEMBAHASAN
A.   Definisi Pneumonia
Pneumonia adalah suatu penyakit infeksi atau peradangan pada organ paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur ataupun parasit di mana pulmonary alveolus (alveoli) yang bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfer menjadi “inflame” dan terisi oleh cairan. Pneumonia dapat juga disebabkan oleh iritasi kimia atau fisik dari paru-paru atau sebagai akibat dari penyakit lainnya, seperti kanker paru-paru atau terlalu banyak minum alkohol. Namun penyebab yang paling sering ialah serangan bakteria streptococcus pneumoniae, atau pneumokokus.
B.   Penyebab Pneumonia
Pneumonia terutama disebabkan oleh infeksi dari bakteri atau virus dan jarang dijumpai disebabkan oleh fungi dan parasit. Walaupun terdapat lebih dari 100 galur agen infeksi yang telah diidentifikasi, namun hanya beberapa yang bertanggungjawab atas mayoritas kasus yang ada. Infeksi bersama dengan virus beserta bakteri dapat muncul hingga sebanyak 45% infeksi pada anak-anak dan 15% infeksi pada orang dewasa.
Bakteri adalah penyebab paling umum dari pneumonia dapatan masyarakat (CAP), dengan Streptococcus pneumoniae berhasil diisolasi dalam hamper 50% kasus yang ada.
Virus bertanggungjawab atas sekitar sepertiga kasus pneumonia pada orang dewasa dan sekitar 15% kasus pada anak-anak. Agen yang biasanya terkait mencakup: rhinovirus, coronavirus, virus influenza, virus sinsitium pernapasan (RSV), adenovirus, dan parainfluenza. Virus herpes simpleks jarang menyebabkan pneumonia, kecuali dalam kelompok seperti: bayi baru lahir, penderita kanker, penerima transplantasi, dan penderita luka bakar yang cukup parah. Orang yang menjalani transplantasi organ atau yang mempunyai respon imun lemah menunjukkan tingkat pneumoniacytomegalovirus yang tinggi. Para penderita infeksi virus dapat terinfeksi secara sekunder dengan bakteriStreptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, atau Haemophilus influenzae, khususnya ketika disertai masalah kesehatan lain. Virus yang berbeda mendominasi masa yang berbeda dalam setahun, sebagai contoh selama musim influenza maka virus influenza bertanggungjawab atas lebih dari separuh kasus virus yang terjadi. Wabah virus lainnya juga sesekali muncul, termasuk hantavirus dan coronavirus.
Pneumonia jamur jarang dijumpai, namun lebih sering muncul pada individu yang menderita sistem kekebalan lemahakibatAIDS, obat penekan kekebalan, atau masalah medis lainnya. Jenis ini paling sering disebabkan oleh Histoplasma capsulatum, blastomyces, Cryptococcus neoformans, Pneumocystis jiroveci, dan Coccidioides immitis. Histoplasmosis paling umum terjadi di lembah Sungai Mississippi, dan coccidioidomycosis paling umum dijumpai di Barat Daya Amerika. Jumlah kasus telah meningkat di paruh kedua abad ke-20 akibat makin seringnya orang melakukan perjalanan dan meningkatnya supresi kekebalan tubuh dalam populasi.
Beragam parasit dapat memengaruhi paru-paru, termasuk: Toxoplasma gondii, Strongyloides stercoralis,Ascaris lumbricoides, dan Plasmodium malariae. Berbagai organisme ini biasanya memasuki tubuh melalui kontak langsung dengan kulit, pencernaan, atau melalui vektor serangga. Kecuali untuk Paragonimus westermani, kebanyakan parasit tidak secara khusus menginfeksi paru-paru tetapi melibatkan paru-paru sebagai tempat sekunder terhadap tempat lainnya. Sebagian parasit, khususnya yang termasuk genera Ascaris dan Strongyloides, merangsang timbulnya reaksi eosinofilikkuat, yang dapat mengakibatkan pneumonia eosinofilik. Dalam infeksi lainnya, seperti malaria, keterlibatan paru terutama akibat inflamasi sistemik yang diinduksi oleh sitokin. Di negara berkembang infeksi semacam ini paling sering dijumpai pada orang-orang yang kembali dari bepergian atau pada para imigran. Secara global, infeksi-infeksi paling sering terjadi pada pada penderita defisiensi kekebalan tubuh.
C.   Gejala Pneumonia
Gejala pneumonia bervariasi, mulai dari pernapasan yang cepat sampai kegagalan pernapasan dan tekanan darah yang sangat rendah atau dikenal dengan istilah syok septik. Jika pneumonia terjadi setelah bayi lahir, gejalanya akan timbul secara bertahap. Terkadang bayi tiba-tiba menjadi sakit yang disertai dengan turun-naiknya suhu tubuh. Namun, umumnya gejala pneumonia adalah demam, batuk, sesak napas, serta napas dan nadi cepat.
D.   Diagnosa Pneumonia
Diagnosa pneumonia akan jelas apabila:
1.    Terdengar napas yang kasar, dan jika diperiksa dengan stetoskop akan terdengar suara yang lemah.
2.    Hasil Rontgen dada menunjukkan ada bagian yang berwarna putih-putih di bagian kiri atau kanan paru.
3.    Terdeteksi ada bakteri atau jamur pada pengujian sampel dahak (sputum). Sayangnya pengujian ini sulit sekali dilakukan pada anak.
4.    Hasil tes darah menunjukkan peningkatan sel darah putih dengan dominasi netrofil untuk pneumonia yang disebabkan infeksi bakteri. Bila peningkatan sel darah putih dengan dominasi limfosit, sangat mungkin pneumonia karena virus.
E.   Petofisiologi Pneumonia
Di antara semua pneumonia bakteri, patogenesis dari pneumonia pneumokokus merupakan yang paling banyak diselidiki. Pneumokokus umumnya mencapai alveoli lewat percikan mukus atau saliva. Lobus bagian bawah paru-paru paling sering terkena karena efek gravitasi. Setelah mencapai alveoli, maka pneumokokus menimbulkan respon yang khas terdiri dari empat tahap yang berurutan:
1.    Kongesti (24 jam pertama) : Merupakan stadium pertama, eksudat yang kaya protein keluar masuk ke dalam alveolar melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor, disertai kongesti vena. Paru menjadi berat, edematosa dan berwarna merah.
2.    Hepatisasi merah (48 jam berikutnya): Terjadi pada stadium kedua, yang berakhir setelah beberapa hari. Ditemukan akumulasi yang masif dalam ruang alveolar, bersama-sama dengan limfosit dan magkrofag. Banyak sel darah merah juga dikeluarkan dari kapiler yang meregang. Pleura yang menutupi diselimuti eksudat fibrinosa, paru-paru tampak berwarna kemerahan, padat tanpa mengandung udara, disertai konsistensi mirip hati yang masih segar dan bergranula (hepatisasi = seperti hepar).
3.    Hepatisasi kelabu (3-8 hari) : Pada stadium ketiga menunjukkan akumulasi fibrin yang berlanjut disertai penghancuran sel darah putih dan sel darah merah. Paru-paru tampak kelabu coklat dan padat karena leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi di dalam alveoli yang terserang.
4.    Resolusi (8-11 hari) : Pada stadium keempat ini, eksudat mengalami lisis dan direabsorbsi oleh makrofag dan pencernaan kotoran inflamasi, dengan mempertahankan arsitektur dinding alveolus di bawahnya, sehingga jaringan kembali pada strukturnya semula.
Menurut Suryadi (2001 : 247) patofisiologi pada pneumonia adalah:
1.    Adanya gangguan pada terminal jalan nafas dan alveoli oleh mikroorganisme patogen yaitu virus dan (Streptococcus Aureus, Haemophillus Influenzae dan Streptococcus Pneumoniae) bakteri.
2.    Terdapat infiltrat yang biasanya mengenai pada multiple lobus. Terjadinya destruksi sel dengan meninggalkan debris cellular ke dalam lumen yang mengakibatkan gangguan fungsi alveolar dan jalan nafas.
3.    Pada kondisi anak ini dapat akut dan kronik misalnya : Cystic Fibrosis (CF), aspirasi benda asing dan konginetal yang dapat meningkatkan resiko pneumonia.
F.    Farmakoterapi Pneumonia
1.    Antibiotik (diberikan secara intravena)
Penisilin 50.000 IU/ kg BB/ hari ditambah kloramfenikol 50 – 70 mg/ kg BB/ hari atau diberikan antibiotik yang mempunyai spectrum luas seperti ampicilin. Pengobatan ini diteruskan sampai bebas demam 4 – 5 hari.
2.    Ekspektoran
3.    Antipiretik
4.    Analgetik
5.    Terapi oksigen dan nebulisasi aerosol
Pemberian oksigen dan cairan intravena; biasanya diperlukan campuran glukose 5 % dan NaCL 0,9 % dengan perbandingan 3 : 1 ditambah larutan KCL 10 mEq/ 500 ml/ botol infus.
6.    Fisioterapi dada dengan drainase postural
G.   Pencegahan Pneumonia
Ada sejumlah langkah yang dapat Anda ambil untuk membantu mencegah mendapatkan pneumonia .
1.     Berhenti merokok . Anda lebih mungkin untuk mendapatkan pneumonia jika Anda merokok.
2.     Hindari orang yang memiliki infeksi yang kadang-kadang menyebabkan pneumonia.
3.     Tinggal jauh dari orang-orang yang memiliki pilek, yang flu , atau lainnya infeksi saluran pernapasan .
4.     Jika Anda belum memiliki campak atau cacar air atau jika Anda tidak mendapatkan vaksin terhadap penyakit ini, hindari orang-orang yang memiliki mereka.
5.     Cuci tangan Anda sering. Ini membantu mencegah penyebaran virus dan bakteri yang dapat menyebabkan pneumonia.
6.     Vaksinasi
Vaksin untuk membantu mencegah pneumonia tersedia. Vaksin untuk anak-anak disebut vaksin konjugasi pneumokokus (PCV) . Vaksin untuk orang dewasa (usia 65 tahun atau lebih tua), orang-orang yang merokok, dan orang-orang yang memiliki beberapa jangka panjang (kronis) kondisi disebut polisakarida vaksin pneumokokus (PPSV).
Vaksin pneumokokus tidak dapat mencegah pneumonia. Tapi itu bisa mencegah beberapa komplikasi serius dari pneumonia, seperti infeksi dalam aliran darah (bakteremia) atau seluruh tubuh (septikemia), pada orang dewasa muda dan mereka lebih tua dari usia 55 yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang sehat.





BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang mengenai parenkim paru. Pneumonia pada anak dibedakan menjadi:
           1.    Pneumonia lobaris
           2.    Pneumonia interstisial (bronkiolitis)
           3.    Bronkopneumonia.
Pneumonia adalah salah satu penyakit yang menyerang saluran nafas bagian bawah yang terbanyak kasusnya didapatkan di praktek-praktek dokter atau rumah sakit dan sering menyebabkan kematian terbesar bagi penyakit saluran nafas bawah yang menyerang anak-anak dan balita hampir di seluruh dunia. Diperkirakan pneumonia banyak terjadi pada bayi kurang dari 2 bulan, oleh karena itu pengobatan penderita pneumonia dapat menurunkan angka kematian anak.









Share this

0 Comment to "Makalah Pneumonia"

Posting Komentar

Komentar Anda Adalah Motivasi Untuk Saya